Mengapa para caleg minta bantuan ‘dukun politik’ dan ‘guru spiritual’ untuk merebut kursi legislatif?

Paranormal Ki Kusumo mengaku sudah membantu pemenangan banyak calon dalam kontestasi politik sejak 1990-an.
Keterangan gambar,Paranormal Ki Kusumo mengaku sudah membantu pemenangan banyak calon dalam kontestasi politik sejak 1990-an.

Pemilu 2024 yang digelar pada 14 Februari mendatang tidak hanya menentukan siapa presiden dan wakil presiden lima tahun mendatang, tapi juga memilih siapa anggota parlemen yang duduk di DPD, DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, dan DPR RI.

Para calon anggota legislatif – yang jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 30.000 orang – bakal bertarung sengit demi meraup suara terbanyak.

Itu sebabnya banyak caleg menempuh segala cara dan upaya agar menang, mulai dari menyewa konsultan politik hingga pergi ke dukun atau guru spiritual.

BBC News Indonesia menemui dukun, guru spiritual, serta beberapa caleg yang mengaku menggunakan kekuatan spiritual untuk alasan ‘membentengi diri’ demi mencapai tujuan mereka.

Bala bantuan dunia gaib

Di Jabodetabek, nama Ki Kusumo sudah tak asing lagi. Paranormal yang merambah dunia hiburan ini mengaku sudah membantu pemenangan banyak caleg dalam kontestasi politik sejak 1990-an.

Itu mengapa kliennya sudah tak terhitung jumlahnya, mulai dari politikus, nelayan, bahkan selebritas.

“Yang saya bantu, pasti menang,” ujar Ki Kusumo di tengah kepulan asap dari tungku kemenyan di tempat praktiknya di Bekasi.

Ia kemudian melakukan berbagai gerakan sembari terpejam, seolah melakukan ritual. Sejurus kemudian, pria paruh baya itu tiba-tiba berdiri dan memadamkan asap dari wadah kemenyannya.

“Sudah, sudah. Nanti ada yang benar-benar datang,” katanya sembari tertawa, hingga matanya yang memerah nyaris tak terlihat.

Ki Kusumo
Keterangan gambar,Ki Kusumo mengaku sudah membantu pemenangan banyak caleg dalam kontestasi politik sejak 1990-an.

Pria berusia 49 tahun itu kemudian bercerita baru saja pulang setelah berkeliling Pulau Jawa untuk mendampingi para caleg yang bertarung pada pemilu tahun ini.

Di depan bangunan dua lantai tersebut, terpampang berbagai papan bertuliskan jasa-jasa yang ditawarkan Ki Kusumo, dari pengobatan alternatif hingga kursus bela diri.

Ketika kami berjalan ke lantai bawah bangunan tersebut, terlihat deretan pedang besar. Pria ini mengaku mendapatkan barang-barang itu ketika sekolah di Hong Kong.

Dari saku celana, Ki Kusumo lantas mengeluarkan bekas tempat bedak kecil.

Ia membuka wadah itu dan memamerkan binatang kecil yang sedang meringkuk di dalamnya.

Bentuknya seperti kelabang yang melingkar mirip gelang. Tak terlihat ada kepala di tubuh hewan itu.

“Ini rantai babi. Harganya bisa miliaran [rupiah]. Susah dapatnya. Harus ke dalam gua-gua,” tutur Ki Kusumo.

“Kalau caleg bawa ini, bisa menambah karisma. Kalau mereka ketemu masyarakat, pasti orang pada percaya sama omongan dia [caleg]. Akhirnya, ya bisa menang pemilu.”

Ki Kusumo
Keterangan gambar,Ki Kusumo ketika ditemui di tempat praktiknya di Bekasi, Jawa Barat.

Namun jimat itu hanya pegangan, ucapnya. Yang penting adalah bantuan dari makhluk-makhluk dari alam spiritual, seperti jin.

“Dalam dunia politik, banyak orang tentu membutuhkan suara dan dalam konsep spiritual, kita bisa menciptakan satu suara yang berbeda, tapi nyata,” katanya.

“Saya nggak bisa cerita konsep detailnya, tapi satu jadi seratus, satu jadi seribu, itu bisa dibuat.”

Ia juga berkata tak sembarang ‘makhluk halus’ bisa dipakai untuk membantu caleg, namun harus disesuaikan dengan karakter masing-masing orang.

“Kita lihat tanggal, bulan, tahun lahirnya. Ada wuku-nya. Weton juga dihitung. Setelah ketemu, baru kita bisa eksekusi,” tuturnya.

Untuk dapat menerima ‘makhluk halus’ itu, para caleg mesti melakoni ritual khusus. Dalam ritual itu, Ki Kusumo mentransfer energi ke kliennya.

Setelah itu, kliennya tinggal menunggu kemenangan. Tak perlu ritual doa atau membaca ayat kitab suci, klaim dia.

“Terima jadi,” ucapnya menyeringai.

Selain mengerahkan makhluk dari alam gaib, Ki Kusumo juga memobilisasi suara dari anggota organisasi masyarakat yang ia pimpin yakni Komando Pejuang Merah Putih agar mencoblos kliennya saat pemungutan suara.

“Awalnya, klien datang minta bantuan spiritual, tapi banyak yang kemudian meminta bantuan suara fisik. Mereka tanya, ‘Ki Kusumo, bisa nggak anggotanya coblos saya?’” tuturnya.

“Kemarin saya keliling Jawa itu adalah mensosialisasikan kepada jajaran jaringan saya untuk mendukung Si A, atau Si B, yang jadi caleg atau kepala daerah yang kita harusnya dukung.”

Ki Kusumo mengeklaim tak ada kliennya yang gagal. Karena reputasi itu, ia selalu kebanjiran klien dari berbagai penjuru Indonesia setiap menjelang pemilu.

‘Ilmu saya diturunkan dari kakek buyut’

Beralih ke Pulau Madura, Jawa Timur. Di sebuah rumah, seorang pria bersarung dan berkopiah hitam sedang membolak-balik halaman demi halaman buku berwarna coklat tuanya.

Di sebelah kanan-kiri pria paruh baya itu, ada potongan-potongan kertas yang disimpan dalam map plastik berwarna biru bersama sebotol minyak yang dia klaim tak pernah habis meski sudah digunakan berkali-kali.

Kitab, jimat, dan minyak tersebut adalah bekal kerja Akhmad Fakih, yang dikenal dengan nama Kanjeng Lora ketika menjalani profesi sebagai guru spiritual.

“Minyak ini biasanya dioles ke alis, bibir atau rambut bisa…” ujarnya saat ditemui di rumahnya di Dusun Tengah, Desa Samatan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, pada akhir Desember lalu.

“Khasiatnya [supaya orang yang memakai terlihat] karismatik, bagaimana orang percaya pada omongannya, percaya terhadap pribadinya.”

Akhmad Fakih atau Kanjeng Lora menunjukkan kitab, jimat, dan minyak yang digunakan untuk 'membantu klien-kliennya'.
Keterangan gambar,Akhmad Fakih atau Kanjeng Lora menunjukkan kitab, jimat, dan minyak yang digunakan untuk ‘membantu klien-kliennya’.

Pria berusia 50 tahun ini mengaku sudah menjadi guru spiritual sejak muda.

‘Bakat’ itu ia peroleh secara alami, katanya. Namun ilmu spiritualnya diturunkan dari kakek buyut hingga abahnya.

Biasanya orang-orang yang datang ke rumahnya minta disembuhkan dari penyakit tertentu.

Namun di tahun politik seperti sekarang tak cuma orang sakit yang berkunjung, tapi juga calon anggota legislatif yang bakal bertarung di Pemilu 2024.

Mereka mendatanginya agar selamat dunia dan akhirat, serta mendapat ‘berkah’ sebanyak-banyaknya ketika berkampanye.

Pria yang sehari-hari mengajar di Madrasah Ibtidaiyah ini bercerita tak pernah menolak siapa pun yang datang padanya — selama niatnya baik.

Para caleg yang minta pertolongan lantas diberikan wejangan dan ritual yang mesti dijalani setiap malam tanpa bolong sekalipun.

Mulai dari membaca Surat Yasin yang telah diberikan tanda olehnya di beberapa ayat tertentu dan dibaca beberapa kali.

Cara membacanya pun tak boleh sembarang, ada tuntunan yang diberikan.

Ritual itu dilakukan dini hari, sekitar pukul 03.00 — yang disebutnya sebagai “waktu istijabah atau saat yang pas untuk berdoa karena diyakini bakal dikabulkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.

“Kemudian setelah baca Surat Yasin, ada bacaan yang memang khusus dibaca,” katanya tanpa memberitahu bacaan yang dimaksud.

“Bacanya jangan sampai tertidur, harus sampai azan subuh atau dikerjakan sebelum subuh… anggaplah jam 03.00 karena di jam itu sedang tenang atau waktu istijabah.”

Ritual tersebut harus dilakukan selama 41 hari jelang hari pencoblosan dan dibarengi dengan penggunaan jimat.

Kala bertemu masyarakat para caleg yang datang padanya akan disarankan memakai minyak yang diramu sendiri oleh Kanjeng Lora.

Dia menunjukkan minyak dalam botol kaca yang tampak buram itu.

Warnanya coklat kekuningan yang klaimnya tak pernah berkurang walau sudah dipakai berkali-kali.

“Minyak itu saya beri ritual, baca-bacaan yang memang khusus bagaimana bisa menarik simpati masyarakat. Tapi yang paling penting adalah modal spiritual setiap malam itu,” ucapnya.

Kanjeng Lora mengaku sudah menjadi guru spiritual sejak muda.
Keterangan gambar,Kanjeng Lora mengaku sudah menjadi guru spiritual sejak muda.

Mayoritas calon anggota legislatif yang meminta ‘bantuan’ berasal dari Kabupaten Pamekasan. Mereka bakal memperebutkan kursi DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Dari pengalamannya ‘membantu’ caleg-caleg itu sekitar 80% menang, klaimnya.

“Alhamdulillah bisa dikatakan dari sekian banyak calon anggota legislatif yang datang ke sini bisa dikatakan sukses,” katanya dengan wajah semringah.

Ikatan Kanjeng Lora dengan anggota legislatif yang dibantunya, berdasarkan pengakuannya, masih terjalin hingga saat ini.

Karena kepada mereka, dia ‘menitipkan’ jimat sebagai pegangan. Bentuknya bermacam-macam; ada minyak, tongkat, atau keris.

Jimat-jimat itu ada yang dikembalikan tetapi ada juga yang dibiarkan menetap di rumah anggota legislatif tersebut.

“Ada ‘media’ yang memang perlu dibawa dari sini untuk diletakkan di rumahnya bahkan dibawa setiap bertemu masyarakat.”

“Karena di rumah adalah tempat orang bermunajat, berdoa. Jadi di situ sebagai penunggunya.”

‘Selain wirid, kesiapan mental caleg harus kuat’

Sekitar sembilan jam perjalanan dari Pamekasan, terdapat seorang dukun bernama Abdul Fatah Hasan di Banyuwangi, Jawa Timur. Dia mengaku sudah tiga kali terlibat menyokong para calon anggota legislatif.

Praktisi spiritual ini mengatakan caleg-caleg itu datang untuk satu tujuan: menang!

Tapi masalahnya, kata dia, tak segampang itu memenuhi harapan mereka.

Dukun seperti dirinya tak bisa bekerja sendiri, para caleg harus benar-benar menyiapkan mental. Sebab masalah yang timbul saat berkampanye tak bisa ditebak.

“Mereka akan dihadapkan pada situasi yang bisa saja kehidupan mereka dibuka, jadi kesiapan mental harus dikuatkan,” ucap Abdul Fatah yang mengenakan kaos putih dan berkacamata hitam.

Paranormal Abdul Fatah Hasan mengaku sudah tiga kali terlibat menyokong para calon anggota legislatif.
Keterangan gambar,Paranormal Abdul Fatah Hasan mengaku sudah tiga kali terlibat menyokong para calon anggota legislatif.

Dari pengalamannya mendampingi caleg, persoalan yang muncul biasanya kurang percaya diri atau kendala komunikasi.

Itu mengapa selain mendukung secara spiritual, ia juga memberikan dukungan moral.

Untuk ‘bantuan’ spiritual dia menggunakan bacaan-bacaan yang mesti rutin dilakoni para caleg. Termasuk jimat dan beberapa ritual.

“Untuk aurod [wirid] harus cocok dengan karakteristik seseorang… bisa jadi aurod yang diberikan sama, tapi menyesuaikan kemampuan seseorang menjalani dengan istiqomah.”

Soal ritual, ia enggan menjelaskan secara rinci pada kami.

Dia khawatir kalau dibuka, akan memicu ‘prasangka’ di masyarakat.

Yang pasti, tegas Abdul, selama menjalani ritual ada pantangan yang boleh dan tidak dilakukan.

Pria yang tergabung di Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) ini terang-terangan berkata banyak dari calon anggota legislatif yang meminta pertolongannya, pada akhirnya kalah dalam kontes politik.

“Banyak yang tidak jadi [gagal] karena kita lihat fakta di lapangan. Misal dalam satu daerah pemilihan yang diperebutkan satu kursi, sementara yang datang sepuluh orang…”

“Tapi karena dorongan kuat untuk jadi [menang], kita tetap tidak boleh menolak meski potensinya tipis.”

“Makanya kesiapan mental harus disiapkan dari awal.”

Mengapa caleg datang ke guru spiritual dan dukun?

Pada Pemilu 2024, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan dan merilis Daftar Calon Tetap (DCT) untuk calon anggota legislatif DPR RI.

Total caleg DPR RI mencapai 9.917 orang yang berasal dari 11 partai politik dan tersebar di 84 daerah pemilihan.

Mereka sudah pasti harus bertarung sengit demi memperebutkan 580 kursi di Senayan.

Adapun untuk caleg DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota yang angkanya diperkirakan mencapai 30.000 lebih, juga mesti bersaing ketat.

Kursi DPRD Provinsi yang tersedia sebanyak 2.372 dan DPRD Kabupaten/Kota ada 17.510 kursi.

Caleg PDIP, Badri (berdiri dan pakai jaket) saat acara pengobatan gratis di Dusun Sumberanyar Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan
Keterangan gambar,Caleg PDIP, Badri (berdiri dan pakai jaket) saat acara pengobatan gratis di Dusun Sumberanyar Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan

Calon anggota legislatif di Daerah Pemilihan 1 Jawa Timur dari PDI Perjuangan, Badri, mengakui betapa beratnya persaingan.

Dia sudah dua kali bertarung, namun kalah terus. Kali ini, ia sesumbar bakal mengerahkan segala daya yang dimiliki.

Di masa kampanye, Badri berusaha keras agar dirinya dikenal publik.

Ia mendatangi rumah-rumah warga, mengunjungi tokoh masyarakat, dan kiai untuk menarik hati masyarakat.

Bahan kampanye seperti baliho, selebaran, dan korek bergambar mukanya disebar ke berbagai wilayah.

“Karena di Pamekasan Dapil 1 banyak yang belum tahu profil saya. Itu makanya kami door to door memperkenalkan diri ke masyarakat, termasuk visi dan misi.”

Visi-misinya adalah menyejahterakan nelayan, petani, dan pedagang.

Pekerja melipat surat suara Pemilu 2024 di gudang logistik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Dumai, di Kota Dumai, Riau, Senin (15/1/2024).
Keterangan gambar,Pekerja melipat surat suara Pemilu 2024 di gudang logistik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Dumai, di Kota Dumai, Riau, Senin (15/1/2024).

Tapi ikhtiarnya untuk menang tak cuma dilakukan lewat pertemuan tatap muka dengan masyarakat, namun juga melibatkan kekuatan spiritual.

Meski dia tak mau terang-terangan membuka bentuk ritual yang dijalani, satu ‘ibadah’ yang kini wajib dilakoninya membaca shalawat.

Harapannya agar tenang dan tidak mudah emosi kala berhadapan dengan masyarakat.

“Untuk membentengi diri, saya sowan bukan khusus untuk apa yang akan saya capai atau menang. Akan tetapi karena ini pertarungan jadi setidaknya saya ada benteng untuk diri saya sendiri.”

Badri mengaku percaya pada dunia spiritual karena tak lepas dari latar belakangnya yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*